Universitas Palangka Raya Panen Perdana Buah Balangeran

Pejabat Gubernur Kalteng Hadi Prabowo bisa menikmati panen perdana buah balangeran (shorea balangeran). Sebab, sejak ditanam, pohon itu baru dapat berbuah setelah 4 sampai 6 tahun kemudian.

Usai panen perdana di lingkungan Pusat Komputer (PUSKOM), Universitas Palangkaraya (UPR), Hadi Prabowo mengatakan, dengan potensi lahan yang sangat luas dimiliki Unpar mencapai 387 hektare, diharapkan dapat dimanfaatkan untuk menanam ulin, balangeran dan berbagai jenis tanaman rawa gambut lainnya.

“Karena beberapa tanaman, seperti ulin dan balangeran ini merupakan kekayaan Kalteng. Sehingga, Kalteng khususnya UPR akan memiliki laboratorium alam yang cukup luas, yang tidak dimiliki universitas lainnya di Indonesia,” ucap Hadi Prabowo kepada wartawan, Kamis (4/2).

Terlebih, menurut dia, Presiden RI Joko Widodo memiliki komitmen kepada dunia bahwa Indonesia akan mampu mengurangi emisi sampai dengan 41% pada 2030. Untuk itu, Hadi mengajak semua pihak harus dapat bersama-sama memberikan partisipasi dan kontribusi riilnya dalam penanaman pohon, khususnya rehabilitasi hutan, lahan serta gambut.12671950_10203994636906102_804476318413392748_o

Sementara itu, Dirjen Pengendalian Daerah Aliran Sungai (DAS) dan Hutan Lindung, Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan Hilman Nugroho menjelaskan, keberadaan pohon sangat penting bagi lingkungan, khususnya untuk ketersediaan oksigen juga untuk pasokan air alam. Khususnya pohon balangeran, tanaman itu merupakan salah satu jenis tanaman komersial yang dapat dikembangkan dan dibudidayakan untuk berbagai manfaat.

Dekan Fakultas Pertanian, Unpar Ir Cakra Birawa, MP

“Selain itu, pohon balangeran mempunyai ketahanan terhadap jamur dan pelapukan, serta tidak mengalami penyusutan manakala dikeringkan. Yang terkh

usus, pohon balangeran ini hanya mampu tumbuh baik dan berkembang di Kalimantan dan di Bangka Belitung,” tegasnya.

Buah balangeran tersebut tidak setiap tahun berbunga dan berbuah, melainkan dalam jangka waktu 4 sampai 6 tahun sekali. Bahkan, masa buah bisa ditanam hanya selama 12 hari, selebihnya tidak akan bisa ditanam.

Karena itu, kepada semua instansi di Kalteng dia meminta agar dapat mengajak masyarakat minimal menanam 25 pohon selama hidup. Terlebih, Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan Situ Nurbaya sudah menyurati gubernur, bupati/walikota se-Indonesia agar menyediakan anggaran 1% dari APBD masing-masing daerah, untuk melakukan penanaman pohon dan pemerintah pusat siap menyediakan bibit, serta BUMN dan BUMS diminta 10% dari CSR untuk menanam pohon.

Dekan Fakultas Pertanian Universitas Palangka Raya Ir Cakra Birawa, MP, mengungkapkan, panen perdana buah balangeran itu dapat terlaksana atas fasilitasi Dishut Kalteng dan BP DAS Kahayan.

“Pohon balangeran merupakan jenis endemik hutan rawa gambut yang mempunyai pertumbuhan relatif lebih cepat dibanding jenis-jenis pohon rawa gambut lainnya, yang pada umumnya pertumbuhannya lambat,” ucapnya.

Menurutnya, jenis pohon ini perlu mendapat perhatian, karena termasuk spesies yang harus dilindungi menurut International Union for Conservation of Nature and Natural Resources (IUCN). Terlebih di lingkungan Unpar, pohon jenis ini terdapat sebanyak 156 batang, yang terdiri dari pohon alami dan ada juga yang memang ditanam” tukasnya.

Tak hanya panen perdana buah balangeran, kegiatan penanaman sebanyak 516 bibit pohon, meliputi jenis meranti merah, meranti putih, tengkawang, ulin, belina, madang telur, malam-malam, mandarahan, dan beberapa jenis pohon rawa gambut lainnya juga dilakukan di kampus itu