Kuliah umum Dinamika Perekonomian GlobaL- Dampak Terhadap Ekonomi Indonesia dan Respon Kebijakan

Pelemahan ekonomi global, penurunan harga komoditas, serta divergensi kebijakan moneter dunia menjadi tantangan ekonomi global masa kini. Demikian pandangan Deputi Gubernur Bank Indonesia Dr Hendar SE MA. yang disampaikan dalam kuliah umum bertajuk “Dinamika Perekonomian GlobaL- Dampak Terhadap Ekonomi Indonesia dan Respon Kebijakan” di aula Rektorat Universitas Palangka Raya (UPR), Kamis (31/3).

Kuliah umum ini digagas Universitas Palangka Raya (UPR) bekerja sama dengan Bank Indonesia Perwakilan Provinsi Kalimantan Tengah. Dihadiri Rektor Universitas Palangka Raya (UPR) Ferdinan MSi, Rektor Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Palangka Raya Ibnu Elmi AS Pelu.

Lebih lanjut, Hendar mengatakan tantangan ekonomi global turut berdampak pada ekonomi domestik Indonesia. Pada jalur perdagangan, pelemahan ekonomi dunia berdampak pada memburuknya kinerja ekspor Indonesia yang menyebabkan pertumbuhan ekonomi domestik melambat.

Sedang pada sektor komoditas, pelemahan ekonomi global juga berpengaruh pada sektor manufaktur, terutama otomotif, elektronik, dan tekstil.

Kinerja ketiga sektor tersebut, lanjutnya, terus menurun sejak awal 2011 yang diikuti dengan penutupan beberapa korporasi di Indonesia.

“Hal ini cenderung terjadi pada daerah yang bergantung pada sumber daya alam,” katanya.

Hendar menambahkan, beberapa kebijakan fiskal telah diambil pemerintah dalam menghadapi pelemahan ekonomi global tersebut. Salah satunya paket kebijakan reformasi struktural.

Pemerintah meluncurkan paket ini secara bertahap (dalam sepuluh tahap) demi peningkatan efisiensi dan produktivitas.

Melalui kuliah umum ini, Hendar berharap agar mahasiswa dapat memahami kondisi perekonomian Indonesia saat ini. “Mahasiswa harus paham kondisi ekonomi negara kita. Sehingga kelak kalian sebagai penerus mampu mengambil keputusan dengan bijak,” pungkasnya.

Menurutnya, krisis ekonomi global yang terjadi pada tahun 2008, hingga kini belum pulih. Dengan berbagai kebijakan yang dilakukan oleh negara-negara maju seperti Amerika, China dan Jepang pun belum mampu memulihkan krisis tersebut.

Indonesia sebagai salah satu negara yang perekonomiannya terbuka, maka pemerintah pada umumnya dan Bank Indonesia, khususnya merespon tantangan ekonomi tersebut dengan kebijakan moneter, fiskal maupun kebijakan lainnya.

Ia memaparkan, pasca krisis ekonomi global tersebut, satu-satunya negara yang perkembangan ekonominya diindikasikan mulai pulih, yaitu Amerika. Hal itu dapat dilihat dari pertumbuhan ekonomi indeks production manufacturing, penjualan properti dan lain-lain.

Kendati demikian, lanjut dia, banyak orang masih ragu dengan proses pemulihan itu. Menurutnya, bila perkembangan pasar dunia diikuti setiap hari, para pelaku pasar dunia menyimpulkan, perkembangan ekonomi di Amerika menunjukkan tanda baik. Namun, belum begitu baik dan kuat.

Ia mengatakan, tantangan berat juga masih dialami negara-negara maju di Eropa. “Eropa masih menghadapi tantangan berat juga, belum recover (pulih, red). Bahkan, saking semangatnya, mereka ingin mendorong ekonominya cepat bergerak. Bank sentralnya sudah lebih awal mengadopsi kebijakan suku bunga negatif,” katanya.

Dijelaskan, sebaiknya uang digunakan untuk kegiatan ekonomi, ketimbang disimpan di bank. Namun, bank sentral di Eropa menempuh kegitan ekonomi suku bunga negatif, setelah melakukan quantitative easing. Ia mengatakan, China yang perekonomiannya hebat pun kini harus terpuruk.

Padahal, emerging ekonomi di kawasan Asia, Amerika Latin, Afrika, sangat besar ketergantungannya terhadap China. Oleh karena itu, jelas dia, bila China mengalami pelambatan ekonomi, berarti permintaan China akan turun, karena memiliki implikasi terhadap sektor eksternal, ekspor-ekspor negara emerging ekonomi termasuk Indonesia. Ia mengatakan, India justru sangat diuntungkan dengan lemahnya pertumbuhan ekonomi dunia, sebagai negara berkembang, kata dia, ekonomi India mulai membaik, paparnya. (tebangan)